Senin, 25 Maret 2013

Warna-Warni UN



Warna-Warni UN

Ujian Nasional merupakan suatu kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun dan menjadi tolak ukur kelulusan seorang siswa.  Namun beberapa tahun belakangan tolak ukur kelulusan seorang siswa tidak hanya dari hasil UN, tetapi juga dari hasil ujian sekolah.
UN adalah saat pelajar beraksi mengukir prestasi. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan UN harus dipersiapkan dengan mantap. Yang pertama dan paling utama adalah tentu saja belajar. Siswa-siswa bisa saja membentuk kelompok belajar atau bisa belajar . Metode pembelajaran sangat bervariasi, dengan berlatih soal-soal, tanya-jawab dengan kelompok belajar, atau dengan membaca buku seputar mata pelajaran yang diujiankan.
Namun, anggapan bermunculan dari sejumlah siswa mengenai UN, seperti ‘bagaimana jika saya tidak lulus?’ atau ‘bagaimana kalau nanti soal yang keluar pada saat UN susah?’. Beberapa siswa menganggap bahwa UN seperti monster atau seperti sesuatu yang menakutkan, yang membuat siswa menjadi depresi juga stress dan akhirnya tidak ikut ujian karena sakit. Hal seperti ini harus dihindari karena bisa mengancam kejiwaan seorang siswa. Harus ada pihak yang menenangkan atau mengadakan seminar di sekolah mengenai tips-tips menghadapi UN supaya para siswa tidak depresi dan stress agar mengatasi ketakutan dan kegalauan yang terbersit dalam hati dan pikiran para siswa.
                Dalam kaitannya dengan masalah itu, adapula “sub-masalah” lain yang disebabkan oleh masalah pokok di atas. Sub-masalah itu berujung pada hal hukum, baik ini dilakukan oleh pihak sekolah maupun pihak siswa itu sendiri. Dari tahun ke tahun, tercatat banyak kasus Kepala Sekolah, guru, dan siswa dipenjara karena kasus-kasus kriminal seputar UN, seperti mencuri soal-soal UN, maupun menyogok Pengawas UN, hingga menyogok pengawas Independen. Bahkan ada kisah menggelikan, di mana ada siswa yang berdoa di kuburan dan berharap pada malam harinya bisa memimpikan kunci jawaban UN. Adapula yang ke dukun untuk minta jimat.
Pada umumnya, sub-masalah itu hanya dilakukan oleh siswa atau pihak sekolah yang persiapannya belum matang dalam menghadapi UN. Sekolah hanya memikirkan bagaimana meningkatkan kuantitas lulusan, bukan bagaimana meningkatkan kualitas lulusan. Masalah ini juga disebabkan karena SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) kita yang mengukur mutu sekolah dari banyaknya lulusan bukan dari kualitas lulusan. Padahal sekolah yang jumlah lulusannya sedikit bukan berarti lulusannya tidak berkualitas. Lulusan UN yang tidak berkualitas justru hanya menambah angka putus sekolah dan pengangguran. Karena sekolah/Universitas tujuan hanya menerima lulusan berkualitas, bukan hanya sekedar lulus UN.
Sebaiknya, sekolah lebih memperhatikan kualitas siswa dari pada kuantitas lulusan. Siswa yang berkualitas akan memiliki masa depan yang cerah. Apa gunanya lulus tetapi memiliki nilai pas di rata-rata. Sekolah jangan hanya mengejar image sekolah, tetapi harus memikirkan masa depan siswanya. Bagaimanapun, bila sekolah memiliki banyak siswa yang berkualitas maka kuantitas lulusan pun akan meningkat. Prestasi lulusan juga akan menggambarkan kualitas dan mutu sekolah asalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar