Warna-Warni UN
Ujian Nasional merupakan suatu kegiatan pengukuran dan
penilaian kompetensi peserta didik secara nasional di jenjang pendidikan dasar
dan menengah. Suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun dan menjadi
tolak ukur kelulusan seorang siswa.
Namun beberapa tahun belakangan tolak ukur kelulusan seorang siswa tidak
hanya dari hasil UN, tetapi juga dari hasil ujian sekolah.
UN adalah saat pelajar beraksi mengukir prestasi. Jadi,
segala sesuatu yang berkaitan dengan UN harus dipersiapkan dengan mantap. Yang
pertama dan paling utama adalah tentu saja belajar. Siswa-siswa bisa saja
membentuk kelompok belajar atau bisa belajar . Metode pembelajaran sangat
bervariasi, dengan berlatih soal-soal, tanya-jawab dengan kelompok belajar,
atau dengan membaca buku seputar mata pelajaran yang diujiankan.
Namun, anggapan bermunculan dari sejumlah siswa mengenai UN,
seperti ‘bagaimana jika saya tidak lulus?’ atau ‘bagaimana kalau nanti soal
yang keluar pada saat UN susah?’. Beberapa siswa menganggap bahwa UN seperti
monster atau seperti sesuatu yang menakutkan, yang membuat siswa menjadi
depresi juga stress dan akhirnya tidak ikut ujian karena sakit. Hal seperti ini
harus dihindari karena bisa mengancam kejiwaan seorang siswa. Harus ada pihak
yang menenangkan atau mengadakan seminar di sekolah mengenai tips-tips
menghadapi UN supaya para siswa tidak depresi dan stress agar mengatasi
ketakutan dan kegalauan yang terbersit dalam hati dan pikiran para siswa.
Dalam kaitannya dengan masalah
itu, adapula “sub-masalah” lain yang
disebabkan oleh masalah pokok di atas. Sub-masalah itu berujung pada hal hukum,
baik ini dilakukan oleh pihak sekolah maupun pihak siswa itu sendiri. Dari
tahun ke tahun, tercatat banyak kasus Kepala Sekolah, guru, dan siswa dipenjara
karena kasus-kasus kriminal seputar UN, seperti mencuri soal-soal UN, maupun
menyogok Pengawas UN, hingga menyogok pengawas Independen. Bahkan ada kisah
menggelikan, di mana ada siswa yang berdoa di kuburan dan berharap pada malam
harinya bisa memimpikan kunci jawaban UN. Adapula yang ke dukun untuk minta
jimat.
Pada umumnya, sub-masalah itu hanya dilakukan oleh siswa atau
pihak sekolah yang persiapannya belum matang dalam menghadapi UN. Sekolah hanya
memikirkan bagaimana meningkatkan kuantitas lulusan, bukan bagaimana
meningkatkan kualitas lulusan. Masalah ini juga disebabkan karena SISDIKNAS
(Sistem Pendidikan Nasional) kita yang mengukur mutu sekolah dari banyaknya
lulusan bukan dari kualitas lulusan. Padahal sekolah yang jumlah lulusannya
sedikit bukan berarti lulusannya tidak berkualitas. Lulusan UN yang tidak
berkualitas justru hanya menambah angka putus sekolah dan pengangguran. Karena
sekolah/Universitas tujuan hanya menerima lulusan berkualitas, bukan hanya
sekedar lulus UN.
Sebaiknya, sekolah lebih memperhatikan kualitas siswa dari
pada kuantitas lulusan. Siswa yang berkualitas akan memiliki masa depan yang
cerah. Apa gunanya lulus tetapi memiliki nilai pas di rata-rata. Sekolah jangan
hanya mengejar image sekolah, tetapi harus memikirkan masa depan siswanya.
Bagaimanapun, bila sekolah memiliki banyak siswa yang berkualitas maka
kuantitas lulusan pun akan meningkat. Prestasi lulusan juga akan menggambarkan
kualitas dan mutu sekolah asalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar